Aku hanya bisa terdiam dan mematung setelah mendengar apa yang dokter katakan. Aku masih tak percaya dengan vonis yang ia lontarkan kepadaku. Aku hanya bisa mematung dan coba mencerna lebih dalam, dari setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku mencoba menjelajahi sel-sel yang ada didalam otakku yang semakin rumit dan tak aku mengerti. Aku coba menguatkan langkahku dan menegarkan hatiku. Tapi nyatanya? Lihat, aku benci harus berpura-pura terlihat kuat dihadapan semua orang! Aku benci harus terlihat bahwa aku baik-baik saja. Aku muak harus terlihat seakan-akan bahwa aku akan segera sembuh. Aku muak terus dituntut, harus lebih kuat dari penyakit yang mengerogotiku. Aku telah lelah harus berpura-pura dalam kesakitanku, dalam kepalsuan, dan dalam kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang ku harapkan.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya, bahkan sekencang-kencangnya. Tapi, faktanya aku hanya bisa menyembunyikan air mataku. Aku iri pada mereka yang bisa tersenyum lebar dan tertawa sepuasnya tanpa ada kepalsuan. Aku iri pada mereka yang bisa bergerak bebas dalam sandiwara yang mereka perankan. Aku ingin seperti mereka yang menghabiskan waktunya tanpa khawatir akan hadirnya kematian yang bisa saja menghampiri mereka secara tiba-tiba. Aku ingin seperti mereka yang bebas melakukan apa pun yang mereka sukai, tanpa adanya larangan ini dan itu. Aku ingin menjadi pemeran utama dalam sandiwaraku sendiri, bebas bergonta-ganti peran sesuka hati. Tapi nyatanya, aku hanya bisa menjadi seorang penonton. Duduk diam, sambil menunggu kematian datang menjemput.
Kalau saja manusia diizinkan untuk marah dengan takdir yang Tuhan rancang, mungkin aku akan menjadi seorang pemarah yang terus-menerus melontarkan kata-kata kekesalanku pada Tuhan. Dan kalau saja manusia bisa merancang takdirnya sendiri, maka aku akan merancang kebahagiaanku sendiri, tanpa air mata, dan tanpa rasa sakit. Tapi, inilah aku dengan segala keterbatasanku. Aku hanya bisa diam, menulis apa yang aku rasa, menuangkan rasa sakitku lewat tulisan-tulisan.
Aku hanya ingin menikmati hidup lebih lama, Tuhan. Menjelajahi dunia, membuat orang disekitarku nyaman tanpa menyusahkan mereka dan membuat orang tuaku tersenyum bangga karenaku. Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku lelah menjadi seseorang yang tak ku kenal sama sekali. Aku lelah harus menahan sakit. Tuhan, bisakah kita berbincang dalam doa? Sekali lagi? Aku belum siap berbincang denganMu secara langsung. Akan kujelaskan padaMu bahwa aku butuh waktu. Aku belum siap dijemput oleh malaikat utusanMu. Aku mohon... beri aku waktu lebih lama, Tuhan.
Maafkan hambaMu yang tak tau diri ini Tuhan.

bagus kak,cukup nge goyahin hati
BalasHapus