Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Itulah kata yang selalu aku ucap setiap kali aku membuka mataku. Aku melirik jam dan kalender yang terletak diatas meja samping tempat tidurku. Tertuliskan tanggal 14 Febuari 2013. Hari yang sering dibilang kebanyakan orang sebagai "Hari Valentine" atau "Hari Kasih Sayang". Bagiku hari kasih sayang tak harus jatuh pada tanggal itu dan bagiku setiap hari itu adalah hari kasih sayang. Apa pentingnya hari ini bagiku? Haruskah aku iri pada layaknya setiap pasangan yang merayakannya? Menerima setangkai bunga dan menikmati manisnya coklat bersama kekasih.
Ahh... aku tak peduli semua itu.
***
Aku berjalan menelusuri jalan tanpa arah tujuan, mengikuti kaki kemana pun melangkah. Sambil memperhatikan keadaan disekitar aku menggerutu dalam hatiku. Apa-apaan mereka, bermesraan ditempat umum seperti ini? Dikira dunia ini milik mereka berdua apa? Tiba-tiba langkahku terhenti, dan pandanganku tertuju pada suatu pemandangan yang menurutku tak pantas diperlihatkan. Aku termenung melihat kejadian itu, memperhatikan dengan sangat detail tanpa berkedip sedikit pun. "Tuhan... ini yang mereka sebut hari kasih sayang? Menelantarkan orang yang mencintainya? Membiarkan air matanya jatuh bebas membasahi pipinya? Katanya Hari Kasih Sayang, tapi mengapa masih ada tangis?" tanyaku lirih dalam hati.
Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Seorang anak dan ibu menangis berdua delam pelukan mereka. Menangisi seorang laki-laki yang mereka panggil dengan sebutan "Ayah". Yang lebih memilih pergi dengan wanita baru, tanpa memperdulikan perasaan mereka. Tak ada ucapan dan perkataan yang terlontar, bahkan hanya lewat tatapan ada pembicaraan bisu yang terdengar oleh hati.
***
"Kalian tak apa-apa?" tanyaku dengan nada rendah. Mereka menatapku dan seketika Ibu satu orang anak itu menghapus air matanya.
"Ayahku lebih memilih wanita baru itu ketimbang aku dan Ibuku." ucap gadis kecil itu dengan lugu.
"Maafkan aku, aku melihat kejadian yang seharusnya tak aku lihat" tanganku merangkul mereka berdua.
"Tak apa-apa nak, kami yang salah memperlihatkan kecacatan keluarga kami ditempat umum seperti ini" ujar wanita berambut pendek itu dengan lirih.
"Ibu... apa Ayah akan kembali pada kita?" tanya gadis kecil itu dengan lugu.
"Pasti sayang... ayahmu akan kembali." Jawab wanita itu dengan senyum yang terpaksa ia lakukan untuk meyakinkan anaknya.
"Apa Ayah akan meninggalkan wanita itu untuk kita, bu ?" tanya kembali anak itu.
"Iya sayang." Jawab Ibunya sambil membelai anak itu. "Tapi, jika ayahmu tak kembali kau tak tak boleh membencinya ya sayang." Sambung wanita itu.
"Tidak Ibu, aku tak akan membenci Ayahku sendiri. Bagiku kebahagiaan Ayah adalah kebahagiaanku. Ayah pernah bilang jika suatu hari Ayah pergi meninggalkan aku, itu karena aku yang nakal tak mau menurut apa kata Ibu. Aku janji bu, aku akan selalu menuruti apa kata Ibu. Agar Ayah kembali lagi pada kita." Tegas gadis lugu itu sambil tersenyum memandang wajah ibunya.
"Tidak Ibu, aku tak akan membenci Ayahku sendiri. Bagiku kebahagiaan Ayah adalah kebahagiaanku. Ayah pernah bilang jika suatu hari Ayah pergi meninggalkan aku, itu karena aku yang nakal tak mau menurut apa kata Ibu. Aku janji bu, aku akan selalu menuruti apa kata Ibu. Agar Ayah kembali lagi pada kita." Tegas gadis lugu itu sambil tersenyum memandang wajah ibunya.
"Kau juga tak akan membenci wanita yang merebut Ayahmu itu kan sayang?" Tanya Ibu itu pada anaknya.
Tanpa pikir panjang anak itu menjawab,"Tidak bu, bukankah Ibu pernah bilang tak baik membenci seseorang. Jika kita membenci seseorang maka Tuhan akan membenci kita juga. Aku tak mau dibenci Tuhan bu."
Tanpa pikir panjang anak itu menjawab,"Tidak bu, bukankah Ibu pernah bilang tak baik membenci seseorang. Jika kita membenci seseorang maka Tuhan akan membenci kita juga. Aku tak mau dibenci Tuhan bu."
Aku hanya terdiam mendengarkan perbincangan mereka. Seketika Ibunya memeluk erat anaknya kemudian menangis, tanpa memperdulikan keadaan disekitar. Aku membuka tasku dan mengobrak-abrik apa yang ada didalamnya. Sebuah permen coklat, sepertinya cocok untuk anak ini.
"Adik manis, nih aku punya permen coklat, mau?" sambil memberikan permen itu.
"Iya mau." sambil menganggukan kepalanya. "Terimakasih ka." ucapnya lagi dengan lugu.
"Adik manis, nih aku punya permen coklat, mau?" sambil memberikan permen itu.
"Iya mau." sambil menganggukan kepalanya. "Terimakasih ka." ucapnya lagi dengan lugu.
***
Oh... Tuhan, aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi dalam keluargaku. Mungkin aku akan menusuk hati wanita jalang yang tak berperasaan itu, mencabik-cabiknya tanpa belas kasihan! Dia pikir dia siapa yang berani merebut ayahku dari Ibuku. Satu hal yang aku tau, wanita jalang memang selalu datang tidak dalam waktu yang tepat. Sering menganggu hubungan orang lain. Aku iri pada gadis itu, "Hey gadis manis terbuat dari apa kesabaranmu itu? bahkan kau tak membenci wanita yang merebut ayahmu." Ujarku dalam hati. Semoga ini adalah cara Tuhan menyiapkan tawa untukmu dan Ibumu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar