Senin, 18 Februari 2013

Ibu, Kapan Kau Memelukku Lagi?

"Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan."

Sepotong senja menemaniku kali ini, ditambah dengan nyanyian hujan yang berirama tanpa sayair. Aku memperhatikan rintikan hujan dari balik jendela kamarku. Seketika aku teringat pada salah satu peristiwa ketika bersama Ibu. Aku menghela nafasku dan mulai memutar ulang ingatan itu dalam memori otakku.

***

"Ibu... apa yang paling menarik didunia ini?" Tanyaku pada wanita berambut pendek kala itu.
"Apa ya? Hemm... bagi ibu yang menarik didunia ini adalah alam semesta ini, karena mereka begitu indah dengan jutaan misteri yang tersimpan." Jawab beliau dengan lembut.
"Kalau bagimu sayang, apa yang menarik didunia ini?" Tanya beliau padaku.
"Bagiku yang menarik itu adalah ibu. Karena Ibu merupakan alam semestaku, dengan jutaan bahkan miliyaran misteri yang sulit untuk aku pahami." Jawabku sembari memainkan pensil warnaku.
Ibuku hanya tersenyum mendengar jawaban yang terlontar dari bibirku. 
Lalu ia bertanya, "Mengapa kamu sulit memahami Ibu?" 
"Kadang, aku tak benar-benar mengerti jalan pikiranmu, bebanmu, bahkan raut wajahmu yang sulit aku dekskripsikan dengan apapun. Aku selalu menerka-nerka, menebak-nebak tanpa tau apa yang ibu rasakan. Semua rapih engkau simpan dibalik wajah cantikmu itu." Jawabku sambil menatap wajah Ibu.
"Suatu saat akan tiba saatnya kamu sepertiku, menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan dan melihatkan apa yang seharusnya diperlihatkan dan pada saat itulah kamu akan mengerti mengapa Ibu melakukan itu." Ungkapnya dengan senyum manis dilengkungan wajahnya.
"Ibu... apa kau punya impian?"
"Hemm.. yah, Ibu punya."
"Apa impianmu bu?"
"Impian Ibu adalah bisa melihat gadis kecil Ibu tumbuh menjadi dewasa, sebelum Tuhan menjemput Ibu." Ungkapnya sembari membelai rambutku. "Kalau kau apa impianmu sayang?" Sambungnya.
"Impianku adalah membawa Ibu ketempat yang indah dengan uangku sendiri. Mungkin ke bali, disana Ibu bisa melihat sunset yang kata orang sangat indah untuk dipandang. Sabar ya bu, aku sedang menabung untuk itu. Nanti jika tabunganku cukup kita pergi bersama ya bu." Jawabku.
Ibuku hanya tersenyum lembut memandangi wajahku kala itu.
"Tapi bu, jika aku gagal membawamu pergi untuk melihat sunset yang indah hanya karena uangku tak cukup apa kau akan marah dan merasa kecewa padaku? Karena aku gagal mewujudkan mimpi itu?" Tanyaku dengan nada rendah.
Ibu langsung memelukku dan berkata, "Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan. Bagi Ibu menghabiskan waktu bersama gadis kecil Ibu itu jauh lebih indah dari pada sunset di Bali." Ungkapnya dengan lembut.

***

Sudah 5 tahun lamanya kejadian itu berlalu tepat ketika aku berusia 12 tahun. Dan sudah 1 tahun lamanya pula aku tak mengunjungi alam semestaku.
"Ayah... besok aku akan pergi mengunjungi alam semestaku." Seruku dari balik kamarku.
"Iya sayang, Ibumu pasti senang melihatmu." Ungkap Ayah dari lantai bawah.
"Bu, tunggu ya, gadis kecilmu ini besok akan mengunjungimu." Ungkapku dalam hati.

***

"Hai bu... apa kabar? Ini aku gadis kecilmu yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Sekarang umurku sudah 17 tahun. Ahh... Ibu pasti ingat dan tak akan lupa umurku kan? Maaf ya bu, aku baru mengunjungi Ibu sekian lamanya. Aku sibuk mempersiapkan ujian akhir. Aku datang untung menjengukmu sekalian memberi bunga mawar kesukaan Ibu. Hemm... Ibu sudah baikan kan sekarang? Ibu sudah tak merasa sakit lagi kan? Aku percaya bu, Tuhan memperlakukan Ibu dengan baik disana. Aku juga yakin sekarang Ibu sudah bahagia disana, tidak kenal lagi dengan rasa sakit akibat kangker yang menggeroggoti Ibu. Bu... boleh aku jujur, aku rindu belaianmu. Aku rindu pelukkanmu. Kapan kau akan memelukku lagi, bu ?" Tanyaku sambil membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh disekitar batu nisan Ibuku.

Kamis, 14 Februari 2013

Ini Yang Mereka Sebut Hari Kasih Sayang?

Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Itulah kata yang selalu aku ucap setiap kali aku membuka mataku. Aku melirik jam dan kalender yang terletak diatas meja samping tempat tidurku. Tertuliskan tanggal 14 Febuari 2013. Hari yang sering dibilang kebanyakan orang sebagai "Hari Valentine" atau "Hari Kasih Sayang". Bagiku hari kasih sayang tak harus jatuh pada tanggal itu dan bagiku setiap hari itu adalah hari kasih sayang. Apa pentingnya hari ini bagiku? Haruskah aku iri pada layaknya setiap pasangan yang merayakannya? Menerima setangkai bunga dan menikmati manisnya coklat bersama kekasih.
Ahh... aku tak peduli semua itu.

***
Aku berjalan menelusuri jalan tanpa arah tujuan, mengikuti kaki kemana pun melangkah. Sambil memperhatikan keadaan disekitar aku menggerutu dalam hatiku. Apa-apaan mereka, bermesraan ditempat umum seperti ini? Dikira dunia ini milik mereka berdua apa? Tiba-tiba langkahku terhenti, dan pandanganku tertuju pada suatu pemandangan yang menurutku tak pantas diperlihatkan. Aku termenung melihat kejadian itu, memperhatikan dengan sangat detail tanpa berkedip sedikit pun. "Tuhan... ini yang mereka sebut hari kasih sayang? Menelantarkan orang yang mencintainya? Membiarkan air matanya jatuh bebas membasahi pipinya? Katanya Hari Kasih Sayang, tapi mengapa masih ada tangis?" tanyaku lirih dalam hati.
Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Seorang anak dan ibu menangis berdua delam pelukan mereka. Menangisi seorang laki-laki yang mereka panggil dengan sebutan "Ayah". Yang lebih memilih pergi dengan wanita baru, tanpa memperdulikan perasaan mereka. Tak ada ucapan dan perkataan yang terlontar, bahkan hanya lewat tatapan ada pembicaraan bisu yang terdengar oleh hati. 
***

"Kalian tak apa-apa?" tanyaku dengan nada rendah. Mereka menatapku dan seketika Ibu satu orang anak itu menghapus air matanya.
"Ayahku lebih memilih wanita baru itu ketimbang aku dan Ibuku." ucap gadis kecil itu dengan lugu.
"Maafkan aku, aku melihat kejadian yang seharusnya tak aku lihat" tanganku merangkul mereka berdua.
"Tak apa-apa nak, kami yang salah memperlihatkan kecacatan keluarga kami ditempat umum seperti ini" ujar wanita berambut pendek itu dengan lirih.
"Ibu... apa Ayah akan kembali pada kita?" tanya gadis kecil itu dengan lugu.
"Pasti sayang... ayahmu akan kembali." Jawab wanita itu dengan senyum yang terpaksa ia lakukan untuk meyakinkan anaknya.
"Apa Ayah akan meninggalkan wanita itu untuk kita, bu ?" tanya kembali anak itu.
"Iya sayang." Jawab Ibunya sambil membelai anak itu.  "Tapi, jika ayahmu tak kembali kau tak tak boleh membencinya ya sayang." Sambung wanita itu.
"Tidak Ibu, aku tak akan membenci Ayahku sendiri. Bagiku kebahagiaan Ayah adalah kebahagiaanku. Ayah pernah bilang jika suatu hari Ayah pergi meninggalkan aku, itu karena aku yang nakal tak mau menurut apa kata Ibu. Aku janji bu, aku akan selalu menuruti apa kata Ibu. Agar Ayah kembali lagi pada kita." Tegas gadis lugu itu sambil tersenyum memandang wajah ibunya.
"Kau juga tak akan membenci wanita yang merebut Ayahmu itu kan sayang?" Tanya Ibu itu pada anaknya.
Tanpa pikir panjang anak itu menjawab,"Tidak bu, bukankah Ibu pernah bilang tak baik membenci seseorang. Jika kita membenci seseorang maka Tuhan akan membenci kita juga. Aku tak mau dibenci Tuhan bu." 
Aku hanya terdiam mendengarkan perbincangan mereka. Seketika Ibunya memeluk erat anaknya kemudian menangis, tanpa memperdulikan keadaan disekitar. Aku membuka tasku dan mengobrak-abrik apa yang ada didalamnya. Sebuah permen coklat, sepertinya cocok untuk anak ini.
"Adik manis, nih aku punya permen coklat, mau?" sambil memberikan permen itu.
"Iya mau." sambil menganggukan kepalanya. "Terimakasih ka." ucapnya lagi dengan lugu.
***

Oh... Tuhan, aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi dalam keluargaku. Mungkin aku akan menusuk hati wanita jalang yang tak berperasaan itu, mencabik-cabiknya tanpa belas kasihan! Dia pikir dia siapa yang berani merebut ayahku dari Ibuku. Satu hal yang aku tau, wanita jalang memang selalu datang tidak dalam waktu yang tepat. Sering menganggu hubungan orang lain. Aku iri pada gadis itu, "Hey gadis manis terbuat dari apa kesabaranmu itu? bahkan kau tak membenci wanita yang merebut ayahmu." Ujarku dalam hati. Semoga ini adalah cara Tuhan menyiapkan tawa untukmu dan Ibumu.



Rabu, 13 Februari 2013

Kita Sampai Pada Kata "Perpisahan"

Hujan yang indah, turun dengan deras membasahi bumi. Hanya orang-orang tertentu yang dapat mendengar nyanyian rindu yang dimainkan begitu saja oleh hujan. Kadang, saya berusaha keras mencari jawaban yang sebenarnya tak pantas jadi pertanyaan, kenapa kita berpisah?

Sebenarnya aku tak ingin semuanya berakhir begitu cepat. Saat semua terancang begitu sempurna, saat perhatian kecil yang menjelma menjadi sebuah rindu, bahagia yang sangat sederhana. Tapi, semua itu hanya tinggal seberkas mimpi-mimpiku, sekedar angan-anganku yang lenyap oleh kenyataan. Aku tak pernah menyangka bahwa hubungan kita harus berakhir dengan kata-kata "PERPISAHAN". Sebuah kata yang aku benci dan aku takuti ketika menjalin hubungan yang lebih dengan seseorang.

Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyakal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. ketika kamu menyapaku dengan lembut dipagi hari. Saat siang, kamu sekedar mengigatkan aku untuk tidak terlambat makan. Saat malam kamu menyapaku kembali, bercerita tentang apa saja yang kau lalui hari itu. Tentang lelahmu dan tentang bahagiamu. Sekilas aku merasa teristimewa, walaupun aku hanya tempat pelarianmu.

Sampai, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang aku benci kedatangannya. Dia datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Dan tanpa persiapan, aku harus melepasmu. Kamu temukan jalanmu dan aku temukan jalanku. Kita tertawa dengan puas dan bahagia pada jalan kita masing-masing. Iya... kamu berpegang pada obsesimu untuk memiliki dia, dan aku berpegang pada perasanku. Kita berbeda, dan tak seharusnya berjalan beriringan. 

Waktu berjalan begitu cepatnya. Tak ada lagi sapan manjamu, tak ada lagi tawa renyahmu, tak ada lagi cerita lugumu, dan tak ada suara lembutmu yang memenuhi isi otakku. Aku harus menghapus dan membuang itu semua dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-ngendap masuk kedalam hatiku, membuat kenangan itu kembali menjadi nyata. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada rasa kebahagiaan bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Selamat menemukan jalanmu.

Aku percaya bahwa perpisahan tak selalu buruk, ia akan membawa hidupmu dan hidupku jauh lebih baik. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kamu juga mengambil pelajaran dari hubungan kita yang singkat ini. Semua butuh waktu dan proses untuk terbiasa menerima kenyataan. :)



Sabtu, 09 Februari 2013

Peran Yang Kau Mainkan, Sempurna!

 "Dunia ini adalah panggung sandiwara, dan kita adalah aktornya, yang bebas memilih topeng dan berganti peran sesuka hati" 

Inilah dunia dengan segala keindahan dan kerumitannya. Mengajarkan manusia untuk terus berusaha walaupun gagal. Inilah dunia dengan segala keunikannya, yang memberi pelajaran pada manusia untuk terus mensyukuri apa yang ada. Dan inilah dunia yang didalamnya dihuni jutaan manusia yang bebas menentukan topengnya dan memilih peran yang akan dimainkan dengan senang hati. Dunia ini panggung sandiwara bukan?

Ya... Kamu, Aku, dan Semua orang adalah aktor yang bermain dalam dunia ini. Bebas menentukan topeng yang akan digunakan dan bebas menentukan peran yang akan dimainkan. Bergonta-ganti topeng sesuka hati dan bermain peran semaunya. Sangat menarik.

Sangking menariknya, kamu lupa pada topeng aslimu. Kamu terbiasa mengganti topeng aslimu dan menggunakan topeng palsumu dalam peranmu. Tapi sayangnya kamu tak lagi bisa membodohi aku dengan topeng palsumu itu. Karena aku sudah mengetahui topeng aslimu. Tak usah kaget aku mengetahuinya dari mana. Aku mengetahui itu dari kebodohanmu sendiri, kamu yang menunjukkannya perlahan-lahan saat bersama ku. Ingatkah itu?

Apa? Kau tak ingat. Hmm... kalo begitu karena aku masih berbaik hati, maka akan aku ingatkan kembali. Ingat apa yang kau lakukan waktu kita masih bersama? Yap... benar sekali, kamu memberikan perhatianmu padaku, menghabiskan waktumu hanya untuk bersamaku, dan selalu mengucapkan kata-kata yang membuatku tergelitik untuk tertawa. Ya... semua itu benar ternyata ingatanmu lumayan tajam, tapi ada 1 hal yang kamu lupa. Ingat seorang gadis yang bernama Viska? Ya... dia gadis baru pilihanmu setelah aku. Kau memilih meninggalkan aku dan berbahagia dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa kau masih membodohinya dengan topeng palsumu itu? Ahh... iya kau benar, itu bukan urusanku. Hei... tenanglah sedikit, aku tak akan memberitahu pada seluruh dunia tentang topeng aslimu.

Aku masih ingat betul, ketika kamu tertawa dengan puas sedangkan aku menangisi kepergianmu. Dan kamu tak memperdulikan perasaanku saat itu. Meninggalkan aku demi orang baru seperti dia tanpa rasa bersalah. Sungguh kau memerankan peranmu dengan sangat sempurna. Kau seperti aktor senior yang mahir dalam bermain peran. Kau telah berhasil membuat korbanmu meratapi, dan menagisi kamu. Sempat terlintas dalam benakku bahwa peranmu sangat menarik. Bagaimana kalo kita bertukar peran? Kamu yang terluka sedangkan aku yang tertawa sepuasnya? Kamu yang menangis dan meratapi kepergianku sedangkan aku tertawa bahagia bersama kekasih baruku? 

Kau tak mau? Sudah ku duga itu. Tapi baguslah, lagi pula aku juga sudah tak mau bertukar peran denganmu. Satu hal yang harus kau ketahui, sadarlah kamu bahwa sekarang Tuhan memang sedang menukar peran kita, walaupun tidak sama persis. Kamu menyadari aku yang tak ada lagi ditempat, dan memintaku untuk kembali padamu sedangkan aku tak lagi ingin kembali padamu. Kau meratapi kesendirianmu sedangkan aku tertawa dengan kesendirianku. Setidaknya aku berterimakasih padamu, berterimakasih kepada seorang aktor senior yang mengajari aku untuk memainkan peran secara sempurna. Tapi, aku tak akan sepertimu yang melupakan bahkan hampir merusak topeng asliku.



Kamis, 07 Februari 2013

Aku Belum Siap, Tuhan

"Aku lelah untuk terlihat kuat, dan berpura-pura tegar dihadapan semua orang. Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri, seseorang yang bahkan tak kukenal lagi."

Aku hanya bisa terdiam dan mematung setelah mendengar apa yang dokter katakan. Aku masih tak percaya dengan vonis yang ia lontarkan kepadaku. Aku hanya bisa mematung dan coba mencerna lebih dalam, dari setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku mencoba menjelajahi sel-sel yang ada didalam otakku yang semakin rumit dan tak aku mengerti. Aku coba menguatkan langkahku dan menegarkan hatiku. Tapi nyatanya? Lihat, aku benci harus berpura-pura terlihat kuat dihadapan semua orang! Aku benci harus terlihat bahwa aku baik-baik saja. Aku muak harus terlihat seakan-akan bahwa aku akan segera sembuh. Aku muak terus dituntut, harus lebih kuat dari penyakit yang mengerogotiku. Aku telah lelah harus berpura-pura dalam kesakitanku, dalam kepalsuan, dan dalam kenyataan yang berbanding terbalik dengan apa yang ku harapkan.

Aku ingin menangis sejadi-jadinya, bahkan sekencang-kencangnya. Tapi, faktanya aku hanya bisa menyembunyikan air mataku. Aku iri pada mereka yang bisa tersenyum lebar dan tertawa sepuasnya tanpa ada kepalsuan. Aku iri pada mereka yang bisa bergerak bebas dalam sandiwara yang mereka perankan. Aku ingin seperti mereka yang menghabiskan waktunya tanpa khawatir akan hadirnya kematian yang bisa saja menghampiri mereka secara tiba-tiba. Aku ingin seperti mereka yang bebas melakukan apa pun yang mereka sukai, tanpa adanya larangan ini dan itu. Aku ingin menjadi pemeran utama dalam sandiwaraku sendiri, bebas bergonta-ganti peran sesuka hati. Tapi nyatanya, aku hanya bisa menjadi seorang penonton. Duduk diam, sambil menunggu kematian datang menjemput.

Selasa, 05 Februari 2013

Dia, Topik Utamaku Tuhan

Tuhan... selamat malam, selamat pagi atau selamat siang. Aku tak tau disurga sedang musim apa? Apakah musim kemarau atau musim hujan? Atau mungkin sedang musim salju? Mungkin juga, sekarang lagi turun salju. Wah... pasti indah sekali. Boleh bercerita sedikit, jika nanti aku sudah dewasa dan memiliki uang sendiri aku akan pergi melihat salju dengan mata kepalaku sendiri.

Aku tau Tuhan, Engkau tak pernah tidur. Engkau selalu mendengar semua yang aku bicarakan panjang lebar denganmu. Meskipun Engkau tak langsung memberi pukpuk dibahuku. Dan kali ini, aku belum ingin ganti topik pembicaraan. Masih dengan dia, seseorang yang sering aku perbincangkan dalam percakapan panjang denganMu, Tuhan. Entah mengapa dia begitu istimewa, sampai-sampai namanya tak pernah absen untuk ku sebutkan saat aku berbicang denganMu.

Entah harus aku mulai dari mana. Ku dengar sekarang hidupnya jauh lebih baik dengan kekasih barunya. Aku turut bahagia dengan hubungan mereka, meskipun dari hatiku yang paling dalam aku tak rela melepaskan seseorang yang merupakan sumber semangatku. Bagaikan langit tanpa bintang, hampa kosong tak terarah.

Minggu, 03 Februari 2013

Aku Bukan Lagi Gadis Tolol, Sayang

   Stop, berhenti menjelaskan alasan yang sudah tak bisa lagi kupercaya. Berhenti membuatku merasa kasihan padamu. Ceritamu hanya rekaan fiksi yang berantakan alurnya. Plot yang kau gunakan sangat buruk. Cacat sana sini, berlubang dikanan kiri, dan kurang sempurna disetiap sudutnya. Sungguh sangat ironis, sayangku. Bagaimana aku bisa mempercayai? Bagaimana aku bisa yakin dengan apa yang kau ucapkan?

   Haruskah kubercerita pada seluruh dunia tentang kebohonganmu yang berusaha aku sembunyikan setengah mati? Tentang semua janji manismu yang tidak pernah kau tepati? Tentang harapan-harapan yang kau hancurkan tanpa peduli? Siapa kah dirimu yang berani berjanji seenaknya, membangun harapan-harapan kemudian menghacurkannya begitu saja? Lucu sekali, kamu seorang pembohong yang tak memiliki ingatan tajam. Dan ironisnya kau mencoba membohongi orang yang salah. Aku tak akan jatuh kelobang yang sama, aku yang sekarang jauh lebih pintar dari aku yang lalu. Jadi berhentilah membuatku mengasihanimu, kau membuatku lelah.

   Sekian lama tak ada kabar, kau datang menghubungiku lagi. Seperti biasa, seakan-akan kau tak punya kesalahan. Kemudian kamu bercerita tentang hal yang sama. Suatu yang aku sebut KEBOHONGAN.
Kali ini lebih tak tentu arah. Tapi anehnya aku masih bersedia menyediakan telingaku untuk mendengarkan ceritamu yang tak nentu itu. Kenapa? Karena aku kasihan padamu. Iya... ternyata selama aku tinggalkan dan kuberi banyak kesempatan, kau masih saja sama, tak berubah sedikit pun. Bahkan aku sudah tak kaget lagi mengetahui hobimu yang tetap saja sama. Mungkin kau pikir aku orang yang sama, orang yang bebas kau dongengkan setiap saat.

Sabtu, 02 Februari 2013

Untukmu Yang Tak Berani Aku Sebut Namanya

   Berkali-kali namamu mengiang ditelingaku, memaksa sel-sel otakku mengigatmu. Haruskah namamu berotasi diotakku memenuhi ruang isi dikepalaku? Rasanya semua terjadi begitu cepat. Perkenalan itu membuat perasaan yang aneh muncul. Kehadiranmu membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih berubah menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong dihatiku. Tak ada percakapan yang biasa, semua terasa begitu nyata. Perasaan ini tumbuh dan berkembang melebihi batas yang aku tau. Sehari tanpa pesan singkatmu rasanya hampa. Entah mengapa rasanya aku takut kehilanganmu. Sepertinya, bayanganmu telah mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab dibalik semua itu yang tak dapat aku mengerti.

   Mengigatmu itulah yang aku bisa, menunggu pesan singkatmu itu sudah menjadi tugasku sehari-hari. Perasaan apa ini? Haruskah aku merasakan kehadiran cinta untuk yang ke 3 kalinya? Haruskah aku jatuh dalam cinta yang tak nyata untuk ke 3 kalinya? Senyata apakah kamu, hingga membuatku begitu ingin mengenal sosokmu lebih dalam?

   Berkali-kali aku mengelak ini hanya ketertarikan sesaat. Ini hanya rasa yang akan padam termakan hari. Untuk seterusnya, aku akan menganggap ini biasa. Oke, lupakan.
Yap, kita tak saling memiliki. Benar,  semua terjadi seperti mimpi dan semua itu mungkin hanya sebuah ilusi. Aku terjebak pada situasi yang terlalu percaya bahwa cinta itu hadir ditengah-tengah kita. Aku hanya menganggap ini adalah sebuah permainan, permainan yang suatu saat akan berakhir. Entah dengan akhir yang aku sukai atau aku benci.

   Jika semua ini hanya sebuah permainan, jika semua ini hanya berkaitan dengan sesuatu yang instan, dan hanya sebuah ilusi semata, mengapa kamu memperhatikan aku dengan perhatian yang mendalam? Apakah aku yang salah mengartikannya? Apakah aku yang terlalu obsesi untuk memilikimu? Tapi, mengenaskan juga jika aku yang mengartikannya terlalu serius. Dan nyatanya kamu sedang bermain-main meloncat dari satu hati kehati yang lain. 

   Sungguh, aku tak mau terjebak dalam cinta yang tak nyata, tanpa tatapan mata, juga tanpa genggaman tangan yang saling bersinggungan sebelumnya. Tapi, entah mengapa rasanya aku takut kehilangan.