Senin, 18 Februari 2013

Ibu, Kapan Kau Memelukku Lagi?

"Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan."

Sepotong senja menemaniku kali ini, ditambah dengan nyanyian hujan yang berirama tanpa sayair. Aku memperhatikan rintikan hujan dari balik jendela kamarku. Seketika aku teringat pada salah satu peristiwa ketika bersama Ibu. Aku menghela nafasku dan mulai memutar ulang ingatan itu dalam memori otakku.

***

"Ibu... apa yang paling menarik didunia ini?" Tanyaku pada wanita berambut pendek kala itu.
"Apa ya? Hemm... bagi ibu yang menarik didunia ini adalah alam semesta ini, karena mereka begitu indah dengan jutaan misteri yang tersimpan." Jawab beliau dengan lembut.
"Kalau bagimu sayang, apa yang menarik didunia ini?" Tanya beliau padaku.
"Bagiku yang menarik itu adalah ibu. Karena Ibu merupakan alam semestaku, dengan jutaan bahkan miliyaran misteri yang sulit untuk aku pahami." Jawabku sembari memainkan pensil warnaku.
Ibuku hanya tersenyum mendengar jawaban yang terlontar dari bibirku. 
Lalu ia bertanya, "Mengapa kamu sulit memahami Ibu?" 
"Kadang, aku tak benar-benar mengerti jalan pikiranmu, bebanmu, bahkan raut wajahmu yang sulit aku dekskripsikan dengan apapun. Aku selalu menerka-nerka, menebak-nebak tanpa tau apa yang ibu rasakan. Semua rapih engkau simpan dibalik wajah cantikmu itu." Jawabku sambil menatap wajah Ibu.
"Suatu saat akan tiba saatnya kamu sepertiku, menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan dan melihatkan apa yang seharusnya diperlihatkan dan pada saat itulah kamu akan mengerti mengapa Ibu melakukan itu." Ungkapnya dengan senyum manis dilengkungan wajahnya.
"Ibu... apa kau punya impian?"
"Hemm.. yah, Ibu punya."
"Apa impianmu bu?"
"Impian Ibu adalah bisa melihat gadis kecil Ibu tumbuh menjadi dewasa, sebelum Tuhan menjemput Ibu." Ungkapnya sembari membelai rambutku. "Kalau kau apa impianmu sayang?" Sambungnya.
"Impianku adalah membawa Ibu ketempat yang indah dengan uangku sendiri. Mungkin ke bali, disana Ibu bisa melihat sunset yang kata orang sangat indah untuk dipandang. Sabar ya bu, aku sedang menabung untuk itu. Nanti jika tabunganku cukup kita pergi bersama ya bu." Jawabku.
Ibuku hanya tersenyum lembut memandangi wajahku kala itu.
"Tapi bu, jika aku gagal membawamu pergi untuk melihat sunset yang indah hanya karena uangku tak cukup apa kau akan marah dan merasa kecewa padaku? Karena aku gagal mewujudkan mimpi itu?" Tanyaku dengan nada rendah.
Ibu langsung memelukku dan berkata, "Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan. Bagi Ibu menghabiskan waktu bersama gadis kecil Ibu itu jauh lebih indah dari pada sunset di Bali." Ungkapnya dengan lembut.

***

Sudah 5 tahun lamanya kejadian itu berlalu tepat ketika aku berusia 12 tahun. Dan sudah 1 tahun lamanya pula aku tak mengunjungi alam semestaku.
"Ayah... besok aku akan pergi mengunjungi alam semestaku." Seruku dari balik kamarku.
"Iya sayang, Ibumu pasti senang melihatmu." Ungkap Ayah dari lantai bawah.
"Bu, tunggu ya, gadis kecilmu ini besok akan mengunjungimu." Ungkapku dalam hati.

***

"Hai bu... apa kabar? Ini aku gadis kecilmu yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Sekarang umurku sudah 17 tahun. Ahh... Ibu pasti ingat dan tak akan lupa umurku kan? Maaf ya bu, aku baru mengunjungi Ibu sekian lamanya. Aku sibuk mempersiapkan ujian akhir. Aku datang untung menjengukmu sekalian memberi bunga mawar kesukaan Ibu. Hemm... Ibu sudah baikan kan sekarang? Ibu sudah tak merasa sakit lagi kan? Aku percaya bu, Tuhan memperlakukan Ibu dengan baik disana. Aku juga yakin sekarang Ibu sudah bahagia disana, tidak kenal lagi dengan rasa sakit akibat kangker yang menggeroggoti Ibu. Bu... boleh aku jujur, aku rindu belaianmu. Aku rindu pelukkanmu. Kapan kau akan memelukku lagi, bu ?" Tanyaku sambil membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh disekitar batu nisan Ibuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar