Rabu, 07 Agustus 2013

Lagi-lagi Untuk Tuhan

Kepada Tuhan yang duduk disinggah sana.

Selamat pagi, Tuhan sedang apa? Sedang melihat kami ya?  Hari ini cuaca cerah sekali sama seperti wajah orang-orang yang berseri-seri merayakan kemenangan. Matahari juga ikut tertawa melihatnya. Hari ini semua berbahagia, sangat.

Kau tentu sudah tau kan kenapa aku menulis surat ini? Sebelumnya aku mohon maaf atas semua kesalahanku padaMu. Dan aku juga minta maaf, bukan maksudku untuk mengeluh, protes atau menyalahkanMu. Sama dengan kebanyakan orang aku senang sekali merayakan hari ini. Hari dimana umat islam merayakan kemenangan. Tapi, hatiku sedikit kecewa Tuhan. Kau tentu sudah tau sebelum aku merasakan kekecewaan itu. Ah.... benar Kau kan Maha Mengetahui.

Ya... kali ini aku merayakan kemenangan dengan sedikit berbeda. Ada sesuatu yang hilang tapi sebenarnya dia tak hilang. Itulah yang membuatku sedikit kecewa Tuhan. Tuhan Yang Maha Baik maaf ya bukannya aku mau protes atau menyalahkanMu, tapi bisa tidak Kau hilangkan rasa kecewa itu? Setidaknya hilangkan untuk sekedar membuat hati merasa tidak ingin menangis. Kau pasti tertawa ya mendengar permintaanku itu? Ah... sudahlah tak usah Kau hiraukan. Aku percaya dibalik ini ada sesuatu yang telah Kau siapkan untukku. Emmm... semacam kejutan. Kejutan luar biasa yang Engkau ciptakan dengan lentikan jemari-jemariMu. Buat aku selalu percaya akan hal itu ya. Jangan biarkan celah-celah dihati dirasuki rasa ragu akan hal itu.

Sudah dulu ya Tuhan, aku tidak tau lagi harus menulis apa. Bukan karena aku kehabisan kata-kata tapi memang kata-katanya belum bisa dirangkai, ia masih berlompatan kesana kemari. Maaf ya Tuhan untuk surat yang tidak sopan ini. Tentang surat kelancanganku padaMu. Dan terimakasih sudah mau membaca surat yang tidak sopan ini. Jika kau memiliki waktu luang tolong balas suratku ini ya Tuhan. Aku selalu menunggu balasan-balasan dari surat-suratku untukMu.^^



Salamku



Hambamu Yang Tak Tau Sopan

Jumat, 19 Juli 2013

Perasaan

Urusan perasaan itu ajaib. Dibilang sederhana tapi sebenarnya rumit dan dibilang rumit ternyata sederhana. Bagi orang yang sederhana definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan. Tapi, bagi orang yang rumit definisi cinta sejati itu akan mengambil bentuk sebagai pengorbanan, sebagai rasa yang harus diperjuangkan. 

Urusan perasaan itu ajaib sekali, bahkan bisa membuat merasa sepi di tengah keramaian, ramai di tengah kesepian.

"Langit selalu mempunyai skenario terbaik, saat belum terjadi maka bersabarlah."
Itulah kalimat yang selalu aku ingat ketika rindu akanmu memenuhi labirin dihatiku. Ya... setidaknya matra dari kalimat itu cukup magis, membuatku bisa sedikit lebih bersabar. Mengubah persepsiku bahwa sabar tak memiliki batasan. Dan mengajari aku untuk tetap menunggu. Tidak peduli kau datang atau tidak. 

Aku tau "Langit selalu mempunyai skenario terbaik". Maka dari itu aku tak pernah meyalahkan waktu dan jarak. Malahan aku berterimakasih banyak pada waktu dan jarak karena waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.

Ah, cinta selalu saja misterius ya. Sudahlah, jangan diburu-buru nanti bisa merusak jalan ceritanya sendiri. Biarkan saja ceritanya mengalir dengan sederhana.

Minggu, 19 Mei 2013

Sepotong Senja

Aku duduk sendirian disebuah taman kota, memandangi langit sore, sembari menikmati senja. Tiba-tiba datang seorang pria duduk disampingku. 

"Mengapa wanita ingin selalu dimengerti?" Tanya seorang pria kepadaku dengan wajah yang penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum, dan berkata,
"Aku rasa tidak hanya wanita yang ingin dimengerti, pria juga begitu kan?"
"Iya... tapi mengapa wanita selalu mengambil keputusan secara sepihak?" Tanya pria setengah baya itu dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Wanita mengambil keputusan dengan segala pertimbangannya. Entah itu untuk kepentingan orang lain atau pun perasaannya. Dan aku rasa lagi, tidak hanya wanita yang selalu mengambil keputusan secara sepihak. Kadang pria juga seperti itu kan?" Jelasku pada pria itu.
"Iya memang, ah... tapi wanita selalu berbicara semaunya." Tegas pria itu. Aku tersenyum dan berkata,
"Perlu diingat, tidak hanya wanita yang berbicara semaunya dan seenak jidatnya. Tapi, kadang pria juga sama seperti itu kan? Jika kamu ingin mengetahui tentang wanita, tanyakan itu pada dirimu. Disana kamu akan temukan jawabannya. Wanita tak jauh berbeda dengan pria kok." Tegasku lagi.
"Memang benar ternyata wanita itu egois." Ungkapnya sembari menghela nafas.
"Jika wanita itu egois, bagaimana dengan ibumu? beliau juga seorang wanita loh." Tanyaku sedikit menyudutkannya.
"Itu berbeda, wanita sekarang dengan wanita dulu itu bagaikan langit dan bumi. Sangat berbanding jauh sekali." Jawabnya dengan tegas.
"Perlu kamu tau. Tuhan tidak membedakan komposisi dalam pembuatan wanita. Wanita dulu dan sekarang tetap sama, dengan tugas dan kodrat yang sama." Tegasku lagi sembari melirik kearahnya.
"Tuhan memang tidak membedakan komposisinya, perkembangan zaman yang menjadikan mereka berbeda." Ungkapnya lagi berusaha membela diri.
"Ya... mungkin kamu benar, perkembangan zaman yang menjadikan kami berbeda. Aku jadi befikir bahwa perkembangan zaman juga membedakan kalian. Pria sekarang dan pria dulu." Tegasku disertai lengkungan senyum kecil diwajahku.
"Ah... wanita memang selalu memusingkan." 
"Untuk apa dipusingkan? Pasangan kita cerminan dari diri kita." Tegasku.
"Suatu hubungan yang kandas ditengah jalan itu tandanya tidak jodoh. Untuk apa dipermasalahkan dan diributkan toh jawabannya sudah jelas ya tidak jodoh. Dan untuk alasan mengapa tak jodoh? Itu hanya Tuhan yang tau." Sambungku menjelaskan.
"Iya... kau benar. Untuk apa diributkan. Wanita itu sulit ditebak ya?" Tanyanya lagi.
"Untuk menilai wanita dan pria tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Jalan pikiran pria sulit dimengerti oleh kami, begitu pun jalan pikiran kami, sulit dimengerti oleh kalian. Bagi kami pria iu adalah teka-teki dan bagi pria, wanita itu adalah misteri. Sungguh hebat pria yang dapat memahami wanitanya dan sungguh hebat wanita yang dapat mengerti prianya." Tegasku.
"Jika aku menjadi pria, mungkin aku juga akan berfikir sama sepertimu. Dan jika kamu menjadi kami aku rasa kamu juga akan berfikir seperti kami." Sambungku kembali.
Suasana hening, sunyi-senyap, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Kami terdiam sejenak. tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa menit. Tiba-tiba kata-kata keluar dari suaranya yang renyah memecah keheningan sore kala itu.
"Iya... mungkin dibutuhkan pengertian dari ke-2nya. Maafkan aku yang tak mengerti jalan pikiranmu." Ungkapnya dengan nada rendah. Aku pun menoleh dan menatap wajahnya yang kala itu sedang memandangi senja. Aku tersenyum dan berkata,
"Maafkan aku juga yang tidak bisa mengerti jalan pikiranmu."
Kami saling berpandangan, tersenyum satu sama lain dan tertawa memecah suasana kala itu.
"Aku menyayangimu." Bisiknya dengan manja padaku. Aku hanya tersenyum dan tersipu malu mendengarnya. langit sore dan senja menjadi penonton 2 orang anak manusia yang saling bercengkraman. Inilah cerita sepotong senjaku. Perdebatan kecil yang diakhiri dengan bisikan manjamu.



22042013
Ditulis pada saat perdebatan diskusi 
"Pelajaran PKN"

Senin, 18 Februari 2013

Ibu, Kapan Kau Memelukku Lagi?

"Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan."

Sepotong senja menemaniku kali ini, ditambah dengan nyanyian hujan yang berirama tanpa sayair. Aku memperhatikan rintikan hujan dari balik jendela kamarku. Seketika aku teringat pada salah satu peristiwa ketika bersama Ibu. Aku menghela nafasku dan mulai memutar ulang ingatan itu dalam memori otakku.

***

"Ibu... apa yang paling menarik didunia ini?" Tanyaku pada wanita berambut pendek kala itu.
"Apa ya? Hemm... bagi ibu yang menarik didunia ini adalah alam semesta ini, karena mereka begitu indah dengan jutaan misteri yang tersimpan." Jawab beliau dengan lembut.
"Kalau bagimu sayang, apa yang menarik didunia ini?" Tanya beliau padaku.
"Bagiku yang menarik itu adalah ibu. Karena Ibu merupakan alam semestaku, dengan jutaan bahkan miliyaran misteri yang sulit untuk aku pahami." Jawabku sembari memainkan pensil warnaku.
Ibuku hanya tersenyum mendengar jawaban yang terlontar dari bibirku. 
Lalu ia bertanya, "Mengapa kamu sulit memahami Ibu?" 
"Kadang, aku tak benar-benar mengerti jalan pikiranmu, bebanmu, bahkan raut wajahmu yang sulit aku dekskripsikan dengan apapun. Aku selalu menerka-nerka, menebak-nebak tanpa tau apa yang ibu rasakan. Semua rapih engkau simpan dibalik wajah cantikmu itu." Jawabku sambil menatap wajah Ibu.
"Suatu saat akan tiba saatnya kamu sepertiku, menyembunyikan apa yang seharusnya disembunyikan dan melihatkan apa yang seharusnya diperlihatkan dan pada saat itulah kamu akan mengerti mengapa Ibu melakukan itu." Ungkapnya dengan senyum manis dilengkungan wajahnya.
"Ibu... apa kau punya impian?"
"Hemm.. yah, Ibu punya."
"Apa impianmu bu?"
"Impian Ibu adalah bisa melihat gadis kecil Ibu tumbuh menjadi dewasa, sebelum Tuhan menjemput Ibu." Ungkapnya sembari membelai rambutku. "Kalau kau apa impianmu sayang?" Sambungnya.
"Impianku adalah membawa Ibu ketempat yang indah dengan uangku sendiri. Mungkin ke bali, disana Ibu bisa melihat sunset yang kata orang sangat indah untuk dipandang. Sabar ya bu, aku sedang menabung untuk itu. Nanti jika tabunganku cukup kita pergi bersama ya bu." Jawabku.
Ibuku hanya tersenyum lembut memandangi wajahku kala itu.
"Tapi bu, jika aku gagal membawamu pergi untuk melihat sunset yang indah hanya karena uangku tak cukup apa kau akan marah dan merasa kecewa padaku? Karena aku gagal mewujudkan mimpi itu?" Tanyaku dengan nada rendah.
Ibu langsung memelukku dan berkata, "Kadang tak selamanya yang diimpikan berakhir dengan indah dan kadang tak selamanya yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan. Bagi Ibu menghabiskan waktu bersama gadis kecil Ibu itu jauh lebih indah dari pada sunset di Bali." Ungkapnya dengan lembut.

***

Sudah 5 tahun lamanya kejadian itu berlalu tepat ketika aku berusia 12 tahun. Dan sudah 1 tahun lamanya pula aku tak mengunjungi alam semestaku.
"Ayah... besok aku akan pergi mengunjungi alam semestaku." Seruku dari balik kamarku.
"Iya sayang, Ibumu pasti senang melihatmu." Ungkap Ayah dari lantai bawah.
"Bu, tunggu ya, gadis kecilmu ini besok akan mengunjungimu." Ungkapku dalam hati.

***

"Hai bu... apa kabar? Ini aku gadis kecilmu yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Sekarang umurku sudah 17 tahun. Ahh... Ibu pasti ingat dan tak akan lupa umurku kan? Maaf ya bu, aku baru mengunjungi Ibu sekian lamanya. Aku sibuk mempersiapkan ujian akhir. Aku datang untung menjengukmu sekalian memberi bunga mawar kesukaan Ibu. Hemm... Ibu sudah baikan kan sekarang? Ibu sudah tak merasa sakit lagi kan? Aku percaya bu, Tuhan memperlakukan Ibu dengan baik disana. Aku juga yakin sekarang Ibu sudah bahagia disana, tidak kenal lagi dengan rasa sakit akibat kangker yang menggeroggoti Ibu. Bu... boleh aku jujur, aku rindu belaianmu. Aku rindu pelukkanmu. Kapan kau akan memelukku lagi, bu ?" Tanyaku sambil membersihkan rumput-rumput kecil yang tumbuh disekitar batu nisan Ibuku.

Kamis, 14 Februari 2013

Ini Yang Mereka Sebut Hari Kasih Sayang?

Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi. Itulah kata yang selalu aku ucap setiap kali aku membuka mataku. Aku melirik jam dan kalender yang terletak diatas meja samping tempat tidurku. Tertuliskan tanggal 14 Febuari 2013. Hari yang sering dibilang kebanyakan orang sebagai "Hari Valentine" atau "Hari Kasih Sayang". Bagiku hari kasih sayang tak harus jatuh pada tanggal itu dan bagiku setiap hari itu adalah hari kasih sayang. Apa pentingnya hari ini bagiku? Haruskah aku iri pada layaknya setiap pasangan yang merayakannya? Menerima setangkai bunga dan menikmati manisnya coklat bersama kekasih.
Ahh... aku tak peduli semua itu.

***
Aku berjalan menelusuri jalan tanpa arah tujuan, mengikuti kaki kemana pun melangkah. Sambil memperhatikan keadaan disekitar aku menggerutu dalam hatiku. Apa-apaan mereka, bermesraan ditempat umum seperti ini? Dikira dunia ini milik mereka berdua apa? Tiba-tiba langkahku terhenti, dan pandanganku tertuju pada suatu pemandangan yang menurutku tak pantas diperlihatkan. Aku termenung melihat kejadian itu, memperhatikan dengan sangat detail tanpa berkedip sedikit pun. "Tuhan... ini yang mereka sebut hari kasih sayang? Menelantarkan orang yang mencintainya? Membiarkan air matanya jatuh bebas membasahi pipinya? Katanya Hari Kasih Sayang, tapi mengapa masih ada tangis?" tanyaku lirih dalam hati.
Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Seorang anak dan ibu menangis berdua delam pelukan mereka. Menangisi seorang laki-laki yang mereka panggil dengan sebutan "Ayah". Yang lebih memilih pergi dengan wanita baru, tanpa memperdulikan perasaan mereka. Tak ada ucapan dan perkataan yang terlontar, bahkan hanya lewat tatapan ada pembicaraan bisu yang terdengar oleh hati. 
***

"Kalian tak apa-apa?" tanyaku dengan nada rendah. Mereka menatapku dan seketika Ibu satu orang anak itu menghapus air matanya.
"Ayahku lebih memilih wanita baru itu ketimbang aku dan Ibuku." ucap gadis kecil itu dengan lugu.
"Maafkan aku, aku melihat kejadian yang seharusnya tak aku lihat" tanganku merangkul mereka berdua.
"Tak apa-apa nak, kami yang salah memperlihatkan kecacatan keluarga kami ditempat umum seperti ini" ujar wanita berambut pendek itu dengan lirih.
"Ibu... apa Ayah akan kembali pada kita?" tanya gadis kecil itu dengan lugu.
"Pasti sayang... ayahmu akan kembali." Jawab wanita itu dengan senyum yang terpaksa ia lakukan untuk meyakinkan anaknya.
"Apa Ayah akan meninggalkan wanita itu untuk kita, bu ?" tanya kembali anak itu.
"Iya sayang." Jawab Ibunya sambil membelai anak itu.  "Tapi, jika ayahmu tak kembali kau tak tak boleh membencinya ya sayang." Sambung wanita itu.
"Tidak Ibu, aku tak akan membenci Ayahku sendiri. Bagiku kebahagiaan Ayah adalah kebahagiaanku. Ayah pernah bilang jika suatu hari Ayah pergi meninggalkan aku, itu karena aku yang nakal tak mau menurut apa kata Ibu. Aku janji bu, aku akan selalu menuruti apa kata Ibu. Agar Ayah kembali lagi pada kita." Tegas gadis lugu itu sambil tersenyum memandang wajah ibunya.
"Kau juga tak akan membenci wanita yang merebut Ayahmu itu kan sayang?" Tanya Ibu itu pada anaknya.
Tanpa pikir panjang anak itu menjawab,"Tidak bu, bukankah Ibu pernah bilang tak baik membenci seseorang. Jika kita membenci seseorang maka Tuhan akan membenci kita juga. Aku tak mau dibenci Tuhan bu." 
Aku hanya terdiam mendengarkan perbincangan mereka. Seketika Ibunya memeluk erat anaknya kemudian menangis, tanpa memperdulikan keadaan disekitar. Aku membuka tasku dan mengobrak-abrik apa yang ada didalamnya. Sebuah permen coklat, sepertinya cocok untuk anak ini.
"Adik manis, nih aku punya permen coklat, mau?" sambil memberikan permen itu.
"Iya mau." sambil menganggukan kepalanya. "Terimakasih ka." ucapnya lagi dengan lugu.
***

Oh... Tuhan, aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi dalam keluargaku. Mungkin aku akan menusuk hati wanita jalang yang tak berperasaan itu, mencabik-cabiknya tanpa belas kasihan! Dia pikir dia siapa yang berani merebut ayahku dari Ibuku. Satu hal yang aku tau, wanita jalang memang selalu datang tidak dalam waktu yang tepat. Sering menganggu hubungan orang lain. Aku iri pada gadis itu, "Hey gadis manis terbuat dari apa kesabaranmu itu? bahkan kau tak membenci wanita yang merebut ayahmu." Ujarku dalam hati. Semoga ini adalah cara Tuhan menyiapkan tawa untukmu dan Ibumu.



Rabu, 13 Februari 2013

Kita Sampai Pada Kata "Perpisahan"

Hujan yang indah, turun dengan deras membasahi bumi. Hanya orang-orang tertentu yang dapat mendengar nyanyian rindu yang dimainkan begitu saja oleh hujan. Kadang, saya berusaha keras mencari jawaban yang sebenarnya tak pantas jadi pertanyaan, kenapa kita berpisah?

Sebenarnya aku tak ingin semuanya berakhir begitu cepat. Saat semua terancang begitu sempurna, saat perhatian kecil yang menjelma menjadi sebuah rindu, bahagia yang sangat sederhana. Tapi, semua itu hanya tinggal seberkas mimpi-mimpiku, sekedar angan-anganku yang lenyap oleh kenyataan. Aku tak pernah menyangka bahwa hubungan kita harus berakhir dengan kata-kata "PERPISAHAN". Sebuah kata yang aku benci dan aku takuti ketika menjalin hubungan yang lebih dengan seseorang.

Tidak dipungkiri dan aku tak harus menyakal diri, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. ketika kamu menyapaku dengan lembut dipagi hari. Saat siang, kamu sekedar mengigatkan aku untuk tidak terlambat makan. Saat malam kamu menyapaku kembali, bercerita tentang apa saja yang kau lalui hari itu. Tentang lelahmu dan tentang bahagiamu. Sekilas aku merasa teristimewa, walaupun aku hanya tempat pelarianmu.

Sampai, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang aku benci kedatangannya. Dia datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Dan tanpa persiapan, aku harus melepasmu. Kamu temukan jalanmu dan aku temukan jalanku. Kita tertawa dengan puas dan bahagia pada jalan kita masing-masing. Iya... kamu berpegang pada obsesimu untuk memiliki dia, dan aku berpegang pada perasanku. Kita berbeda, dan tak seharusnya berjalan beriringan. 

Waktu berjalan begitu cepatnya. Tak ada lagi sapan manjamu, tak ada lagi tawa renyahmu, tak ada lagi cerita lugumu, dan tak ada suara lembutmu yang memenuhi isi otakku. Aku harus menghapus dan membuang itu semua dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-ngendap masuk kedalam hatiku, membuat kenangan itu kembali menjadi nyata. Mari mengikhlaskan, setelah ini akan ada rasa kebahagiaan bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Selamat menemukan jalanmu.

Aku percaya bahwa perpisahan tak selalu buruk, ia akan membawa hidupmu dan hidupku jauh lebih baik. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kamu juga mengambil pelajaran dari hubungan kita yang singkat ini. Semua butuh waktu dan proses untuk terbiasa menerima kenyataan. :)



Sabtu, 09 Februari 2013

Peran Yang Kau Mainkan, Sempurna!

 "Dunia ini adalah panggung sandiwara, dan kita adalah aktornya, yang bebas memilih topeng dan berganti peran sesuka hati" 

Inilah dunia dengan segala keindahan dan kerumitannya. Mengajarkan manusia untuk terus berusaha walaupun gagal. Inilah dunia dengan segala keunikannya, yang memberi pelajaran pada manusia untuk terus mensyukuri apa yang ada. Dan inilah dunia yang didalamnya dihuni jutaan manusia yang bebas menentukan topengnya dan memilih peran yang akan dimainkan dengan senang hati. Dunia ini panggung sandiwara bukan?

Ya... Kamu, Aku, dan Semua orang adalah aktor yang bermain dalam dunia ini. Bebas menentukan topeng yang akan digunakan dan bebas menentukan peran yang akan dimainkan. Bergonta-ganti topeng sesuka hati dan bermain peran semaunya. Sangat menarik.

Sangking menariknya, kamu lupa pada topeng aslimu. Kamu terbiasa mengganti topeng aslimu dan menggunakan topeng palsumu dalam peranmu. Tapi sayangnya kamu tak lagi bisa membodohi aku dengan topeng palsumu itu. Karena aku sudah mengetahui topeng aslimu. Tak usah kaget aku mengetahuinya dari mana. Aku mengetahui itu dari kebodohanmu sendiri, kamu yang menunjukkannya perlahan-lahan saat bersama ku. Ingatkah itu?

Apa? Kau tak ingat. Hmm... kalo begitu karena aku masih berbaik hati, maka akan aku ingatkan kembali. Ingat apa yang kau lakukan waktu kita masih bersama? Yap... benar sekali, kamu memberikan perhatianmu padaku, menghabiskan waktumu hanya untuk bersamaku, dan selalu mengucapkan kata-kata yang membuatku tergelitik untuk tertawa. Ya... semua itu benar ternyata ingatanmu lumayan tajam, tapi ada 1 hal yang kamu lupa. Ingat seorang gadis yang bernama Viska? Ya... dia gadis baru pilihanmu setelah aku. Kau memilih meninggalkan aku dan berbahagia dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa kau masih membodohinya dengan topeng palsumu itu? Ahh... iya kau benar, itu bukan urusanku. Hei... tenanglah sedikit, aku tak akan memberitahu pada seluruh dunia tentang topeng aslimu.

Aku masih ingat betul, ketika kamu tertawa dengan puas sedangkan aku menangisi kepergianmu. Dan kamu tak memperdulikan perasaanku saat itu. Meninggalkan aku demi orang baru seperti dia tanpa rasa bersalah. Sungguh kau memerankan peranmu dengan sangat sempurna. Kau seperti aktor senior yang mahir dalam bermain peran. Kau telah berhasil membuat korbanmu meratapi, dan menagisi kamu. Sempat terlintas dalam benakku bahwa peranmu sangat menarik. Bagaimana kalo kita bertukar peran? Kamu yang terluka sedangkan aku yang tertawa sepuasnya? Kamu yang menangis dan meratapi kepergianku sedangkan aku tertawa bahagia bersama kekasih baruku? 

Kau tak mau? Sudah ku duga itu. Tapi baguslah, lagi pula aku juga sudah tak mau bertukar peran denganmu. Satu hal yang harus kau ketahui, sadarlah kamu bahwa sekarang Tuhan memang sedang menukar peran kita, walaupun tidak sama persis. Kamu menyadari aku yang tak ada lagi ditempat, dan memintaku untuk kembali padamu sedangkan aku tak lagi ingin kembali padamu. Kau meratapi kesendirianmu sedangkan aku tertawa dengan kesendirianku. Setidaknya aku berterimakasih padamu, berterimakasih kepada seorang aktor senior yang mengajari aku untuk memainkan peran secara sempurna. Tapi, aku tak akan sepertimu yang melupakan bahkan hampir merusak topeng asliku.