Aku duduk sendirian disebuah taman kota, memandangi langit sore, sembari menikmati senja. Tiba-tiba datang seorang pria duduk disampingku.
"Mengapa wanita ingin selalu dimengerti?" Tanya seorang pria kepadaku dengan wajah yang penuh tanda tanya. Aku hanya tersenyum, dan berkata,
"Aku rasa tidak hanya wanita yang ingin dimengerti, pria juga begitu kan?"
"Iya... tapi mengapa wanita selalu mengambil keputusan secara sepihak?" Tanya pria setengah baya itu dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Wanita mengambil keputusan dengan segala pertimbangannya. Entah itu untuk kepentingan orang lain atau pun perasaannya. Dan aku rasa lagi, tidak hanya wanita yang selalu mengambil keputusan secara sepihak. Kadang pria juga seperti itu kan?" Jelasku pada pria itu.
"Iya memang, ah... tapi wanita selalu berbicara semaunya." Tegas pria itu. Aku tersenyum dan berkata,
"Perlu diingat, tidak hanya wanita yang berbicara semaunya dan seenak jidatnya. Tapi, kadang pria juga sama seperti itu kan? Jika kamu ingin mengetahui tentang wanita, tanyakan itu pada dirimu. Disana kamu akan temukan jawabannya. Wanita tak jauh berbeda dengan pria kok." Tegasku lagi.
"Perlu diingat, tidak hanya wanita yang berbicara semaunya dan seenak jidatnya. Tapi, kadang pria juga sama seperti itu kan? Jika kamu ingin mengetahui tentang wanita, tanyakan itu pada dirimu. Disana kamu akan temukan jawabannya. Wanita tak jauh berbeda dengan pria kok." Tegasku lagi.
"Memang benar ternyata wanita itu egois." Ungkapnya sembari menghela nafas.
"Jika wanita itu egois, bagaimana dengan ibumu? beliau juga seorang wanita loh." Tanyaku sedikit menyudutkannya.
"Itu berbeda, wanita sekarang dengan wanita dulu itu bagaikan langit dan bumi. Sangat berbanding jauh sekali." Jawabnya dengan tegas.
"Perlu kamu tau. Tuhan tidak membedakan komposisi dalam pembuatan wanita. Wanita dulu dan sekarang tetap sama, dengan tugas dan kodrat yang sama." Tegasku lagi sembari melirik kearahnya.
"Jika wanita itu egois, bagaimana dengan ibumu? beliau juga seorang wanita loh." Tanyaku sedikit menyudutkannya.
"Itu berbeda, wanita sekarang dengan wanita dulu itu bagaikan langit dan bumi. Sangat berbanding jauh sekali." Jawabnya dengan tegas.
"Perlu kamu tau. Tuhan tidak membedakan komposisi dalam pembuatan wanita. Wanita dulu dan sekarang tetap sama, dengan tugas dan kodrat yang sama." Tegasku lagi sembari melirik kearahnya.
"Tuhan memang tidak membedakan komposisinya, perkembangan zaman yang menjadikan mereka berbeda." Ungkapnya lagi berusaha membela diri.
"Ya... mungkin kamu benar, perkembangan zaman yang menjadikan kami berbeda. Aku jadi befikir bahwa perkembangan zaman juga membedakan kalian. Pria sekarang dan pria dulu." Tegasku disertai lengkungan senyum kecil diwajahku.
"Ya... mungkin kamu benar, perkembangan zaman yang menjadikan kami berbeda. Aku jadi befikir bahwa perkembangan zaman juga membedakan kalian. Pria sekarang dan pria dulu." Tegasku disertai lengkungan senyum kecil diwajahku.
"Ah... wanita memang selalu memusingkan."
"Untuk apa dipusingkan? Pasangan kita cerminan dari diri kita." Tegasku.
"Suatu hubungan yang kandas ditengah jalan itu tandanya tidak jodoh. Untuk apa dipermasalahkan dan diributkan toh jawabannya sudah jelas ya tidak jodoh. Dan untuk alasan mengapa tak jodoh? Itu hanya Tuhan yang tau." Sambungku menjelaskan.
"Suatu hubungan yang kandas ditengah jalan itu tandanya tidak jodoh. Untuk apa dipermasalahkan dan diributkan toh jawabannya sudah jelas ya tidak jodoh. Dan untuk alasan mengapa tak jodoh? Itu hanya Tuhan yang tau." Sambungku menjelaskan.
"Iya... kau benar. Untuk apa diributkan. Wanita itu sulit ditebak ya?" Tanyanya lagi.
"Untuk menilai wanita dan pria tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Jalan pikiran pria sulit dimengerti oleh kami, begitu pun jalan pikiran kami, sulit dimengerti oleh kalian. Bagi kami pria iu adalah teka-teki dan bagi pria, wanita itu adalah misteri. Sungguh hebat pria yang dapat memahami wanitanya dan sungguh hebat wanita yang dapat mengerti prianya." Tegasku.
"Untuk menilai wanita dan pria tidak hanya dilihat dari satu sisi saja. Jalan pikiran pria sulit dimengerti oleh kami, begitu pun jalan pikiran kami, sulit dimengerti oleh kalian. Bagi kami pria iu adalah teka-teki dan bagi pria, wanita itu adalah misteri. Sungguh hebat pria yang dapat memahami wanitanya dan sungguh hebat wanita yang dapat mengerti prianya." Tegasku.
"Jika aku menjadi pria, mungkin aku juga akan berfikir sama sepertimu. Dan jika kamu menjadi kami aku rasa kamu juga akan berfikir seperti kami." Sambungku kembali.
Suasana hening, sunyi-senyap, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Kami terdiam sejenak. tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa menit. Tiba-tiba kata-kata keluar dari suaranya yang renyah memecah keheningan sore kala itu.
"Iya... mungkin dibutuhkan pengertian dari ke-2nya. Maafkan aku yang tak mengerti jalan pikiranmu." Ungkapnya dengan nada rendah. Aku pun menoleh dan menatap wajahnya yang kala itu sedang memandangi senja. Aku tersenyum dan berkata,
"Maafkan aku juga yang tidak bisa mengerti jalan pikiranmu."
Kami saling berpandangan, tersenyum satu sama lain dan tertawa memecah suasana kala itu.
"Aku menyayangimu." Bisiknya dengan manja padaku. Aku hanya tersenyum dan tersipu malu mendengarnya. langit sore dan senja menjadi penonton 2 orang anak manusia yang saling bercengkraman. Inilah cerita sepotong senjaku. Perdebatan kecil yang diakhiri dengan bisikan manjamu.
Suasana hening, sunyi-senyap, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Kami terdiam sejenak. tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa menit. Tiba-tiba kata-kata keluar dari suaranya yang renyah memecah keheningan sore kala itu.
"Iya... mungkin dibutuhkan pengertian dari ke-2nya. Maafkan aku yang tak mengerti jalan pikiranmu." Ungkapnya dengan nada rendah. Aku pun menoleh dan menatap wajahnya yang kala itu sedang memandangi senja. Aku tersenyum dan berkata,
"Maafkan aku juga yang tidak bisa mengerti jalan pikiranmu."
Kami saling berpandangan, tersenyum satu sama lain dan tertawa memecah suasana kala itu.
"Aku menyayangimu." Bisiknya dengan manja padaku. Aku hanya tersenyum dan tersipu malu mendengarnya. langit sore dan senja menjadi penonton 2 orang anak manusia yang saling bercengkraman. Inilah cerita sepotong senjaku. Perdebatan kecil yang diakhiri dengan bisikan manjamu.
22042013
Ditulis pada saat perdebatan diskusi
"Pelajaran PKN"
